Fenomena Pendidikan “homeschooling”

| November 20, 2016 | 0 Comments

Rumah Toga

Akhir-akhir ini, khususnya di tengah masyarakat perkotaan, merebak fenomena pendidikan alternatif homeschooling atau “sekolahrumah”, yaitu layanan pendidikan oleh orang tua yang berlangsung di rumah/keluarga. Ia tidak terikat oleh lembaga pendidikan konvensional seperti sekolah atau pendidikan nonformal lainnya. Bertindak sebagai guru adalah orang tua langsung, atau guru private atau tutor, tetapi kurikulum mengacu pada kurikulum pemerintah.
Sampai saat ini belum ada kejelasan aturan mengenai homeschooling oleh pemerintah. Tetapi dari hari ke hari peminatnya semakin meningkat sebagaimana bisa kita lihat di internet melalui situs www.sekolahrumah.com. Bahkan tahun lalu telah berdiri sebuah organisasi Asosiasi Sekolahrumah dan Pendidikan Alternatif Indonesia (ASAH PENA).
Tentu ini fenomena yang menarik karena terjadi bersamaan dengan semangat pemerintah membangun sekolah-sekolah formal, pengangkatan guru-guru sekolah dan upaya meningkatkan kualitas dan kesejahteraannya, juga saat begitu banyak orang berlomba mengejar gelar dari lembaga pendidikan formal.
Wacana pendidikan alternatif sesungguhnya telah lama membombarder dunia akademik . Buku-buku karya penganjur pendidikan alternatif banyak beredar di Indonesia seperti buku De-Schooling Society karya Ivan Illich; School is Dead karya Everet Reimer; Pedagogy of the Oppressed karya Paulo Freire ; dan sebagainya. Di dalam negeri pendidikan alternatif dikampanyekan antara lain oleh Utomo Dananjaya, Habib Chirsin, YB Mangunwijaya, Ki Sarino Mangunpranoto.
Menurut mereka sekolah ternyata bukan lembaga pendidikan yang membebaskan anak untuk berkreasi dan mengekspresikan perasaannya. Sekolah dibangun dengan setumpuk aturan yang membebani siswa. Almarhum YB Mangunwijaya menyebutnya sebagai Pendidikan “Pak Turut”, karena lembaga ini hanya berambisi menjadikan anak sebagai penurut, bukan menjadikan anak sebagai pribadi yang merdeka. Ivan illich melihat sekolah bukanlah panacea atau obat mujarab bagi problem masyarakat, ia justru telah menjadi komoditas kapitalisme yang licik.
Bagi Reimer sekolah telah membunuh nilai-nilai peradaban yang telah dimiliki anak dari rumah, karenaya sekolah tidak memiliki sumbangan apapun. Lagipula ilmu pengetahuan tidak dilahirkan sekolah, tetapi oleh laboratorium industri dan lembaga-lembaga penelitian. Paulo Freire mengkritik sekolah telah menjadi agen penindasan dari rezim yang korup dan keberadaannya hanya untuk melanggengkan kebudayaan bisu (silent culture). Pikiran-pikiran para ahli ini telah mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.
Bukan tempat yang aman
Para pengikut homeschooling memiliki beberapa alasan. Pertama, sekolah sekarang tidak lagi menjadi lembaga pendidikan yang aman. Banyak sekali kasus-kasus kekerasan yang berlangsung di sekolah, dengan korban anak didik, baik yang dilakukan oleh guru terhadap siswa maupun kekerasan siswa terhadap siswa lainnya dan sekolah tidak mampu melindunginya. Ada guru yang memukul siswa hanya karena tidak mengerjakan PR (pekerjaan rumah), ada siswa-siswa yang setiap hari “dikompas” oleh gang siswa lainnya dengan menyetor sebagian uang sakunya, ada tawuran antarsekolah yang dendam kesumatnya merupakan warisan para seniornya.
Kedua, sekolah prosesnya birokratis, tetapi isinya tidak kontekstual dengan kebutuhan masyarakat. Banyak pengetahuan lapuk yang tetap menjadi menu wajib di sekolah. Materi pelajaran banyak yang tidak match dengan kebutuhan. Tak pelak bila kehadiran sekolah justru menjadi penyumbang terbesar bagi lahirnya pengangguran.
Ketiga, pendidikan sekolah semakin lama semakin mahal. Walaupun pemerintah telah memberikan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tetapi nyatanya orang tua tetap terbebani banyak biaya. Dari uang pendaftaran, pakaian seragam, ekstra kurikuler, karya wisata, dan berbagai kegiatan lainnya. Beban orang tua juga menjadi beban anak keluarga miskin yang diam-diam menimbulkan depresi jiwa. Sering kita baca di surat kabar, siswa sekolah berusaha bunuh diri karena malu tidak mampu membayar uang sekolah. Homeschooling bisa dilaksanakan dengan biaya seminimal mungkin.
Dengan demikian, sekolahrumah tidak hanya cocok bagi kalangan ekonomi kuat dengan kemampuannya mendatangkan guru les ke rumah, tetapi juga bagi golongan keluarga miskin karena alasan biaya.
Bagaimana out put nya? Ternyata tidak kalah dengan pendidikan konvensional. Penelitian di AS menunjukkan, mereka yang homeschooling secara akademikik maupun secara psikososialnya banyak yang lebih tinggi dari anak-anak yang sekolah biasa (Tempo, Edisi 30 April-6 Mei 2007). Di Yogyakarta seorang dosen mendidik sendiri 2 anaknya yang ternyata ketika mengikuti ujian persamaan SMA hasilnya lebih baik dari anak-anak SMA konvensional.
Standar Nasional
Dengan melihat kenyataan tersebut sudah saatnya pemerintah mengapresiasi keberadaan sekolahrumah. Model pendidikan ini bisa menjadi salah satu akses program wajib belajar 9 tahun dengan memfasilitasi sekolahrumah sebagai pendidikan alternatif informal menjadi pendidikan nonformal.
Untuk standarisasi tidak perlu terlalu ketat seperti ketentuan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSPN) yang meliputi 8 komponen. Untuk isi kurikulum, kompetensi lulusan, dan evaluasi mengikuti standar BSPN. Tetapi untuk, proses, guru, biaya, dan sarana prasarana tetaplah bebas disesuaikan dengan kondisi.
Yang diperlukan adalah panduan kepada masyarakat penyelenggara sekolahrumah untuk dipermudah dalam memperoleh kurikulum dan bagaimana mereka bisa mengikuti ujian persamaan sesuai tingkatan masing-masing. Bagi keluarga miskin seperti pemulung, buruh pabrik, nelayan, petani, dan sebagainya, pemerintah bisa membantu langsung mengirimkan para guru atau tutor di bawah koordinasi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, atau melalui kerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam bidang pendidikan alternatif.
Hal lain yang bisa menjadi titik lemah model ini adalah kemungkinan terjadinya alienasi sosial bagi peserta didik, khususnya dari kalangan menengah atas karena tidak memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk bergaul dengan teman-teman sebaya. Jalan keluarnya bisa dibentuk semacam jaringan antar peserta sekolahkeluarga agar di antara mereka bisa saling berinteraksi sosial.
Yang pasti, janganlah ada upaya mempersoalkan keberadaan homeschooling. Biarkan masyarakat menentukan pilihannya. Tugas pemerintah adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, tanpa harus membatasi bagaimana kecerdasan itu diperoleh. Ketika sekolah menjadi lembaga yang angkuh dan mahal namun tidak memberikan jawaban problem kehidupan, apa salahnya masyarakat mendidik anak dengan caranya sendiri?
Saatnya pula sekolah melakukan perubahan agar menjadi lebih ramah dalam memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat. Tanpa itu, lambat laun masyarakat akan meninggalkan lembaga sekolah, karena mereka lebih memilih model sekolah rumah. (dbs)

Tags: , , , ,

Category: News Update

About the Author ()

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *